Banyak dari kita tumbuh dengan anggapan bahwa salah itu memalukan. Jawaban salah dicoret merah, nilai turun, kadang ditertawakan teman. Akibatnya, kita jadi takut mencoba, takut bertanya, dan takut berbicara dalam bahasa asing. Padahal dalam proses belajar, kesalahan bukan musuh, melainkan petunjuk jalan.
Kesalahan menunjukkan apa yang belum kamu kuasai
Saat kamu menjawab semua soal dengan benar, kamu hanya tahu bahwa kamu sudah bisa. Tetapi saat kamu salah, kamu mendapat informasi yang jauh lebih berharga: di bagian mana pemahamanmu masih bolong. Tanpa kesalahan, kamu tidak tahu harus memperbaiki apa.
Karena itu, latihan soal sebaiknya dilakukan sebelum ujian, saat salah masih tidak berisiko. Setiap jawaban salah di latihan adalah satu kesalahan yang tidak akan terjadi di ujian, asalkan kamu mempelajarinya.
Salah lalu dikoreksi membuat ingatan lebih kuat
Penelitian pendidikan menunjukkan hal yang menarik: mencoba menjawab lalu diberi tahu jawaban yang benar sering menghasilkan ingatan yang lebih kuat daripada langsung diberi tahu jawabannya. Usaha menebak membuat otak lebih "siap" menerima jawaban yang benar, apalagi bila koreksinya datang segera.
Syaratnya, kesalahan itu harus segera diikuti umpan balik. Kalau kamu salah lalu tidak pernah tahu jawaban yang benar, kesalahan itu bisa tertanam. Jadi setiap kali mengerjakan latihan, biasakan langsung mengecek pembahasan.
Takut salah memperlambat belajar bahasa
Dalam belajar bahasa asing, rasa takut salah adalah penghambat terbesar. Banyak orang sudah hafal ratusan kata, tetapi tidak pernah berani bicara karena takut tata bahasanya keliru. Padahal kemampuan berbicara hanya tumbuh dengan berbicara.
Di kursus-kursus bahasa di Pare, Kediri, siswa justru didorong untuk langsung memakai bahasa target dalam kegiatan sehari-hari. Salah ucap atau salah susunan kalimat dianggap hal biasa dan diperbaiki bersama. Lingkungan yang menerima kesalahan inilah yang membuat orang cepat berani bicara.
Cara memanfaatkan kesalahan dengan benar
1. Buat catatan kesalahan
Siapkan buku atau file khusus. Setiap kali salah menjawab soal, tulis soalnya, jawabanmu, jawaban yang benar, dan alasan kamu salah. Apakah karena tidak hafal rumus, salah membaca soal, salah hitung, atau belum paham konsep?
2. Kenali pola kesalahanmu
Setelah beberapa minggu, baca catatan itu. Biasanya akan terlihat pola, misalnya sering salah di soal pecahan, sering terburu-buru membaca soal cerita, atau sering tertukar antara simple past dan present perfect. Pola ini memberi tahu apa yang harus kamu latih.
3. Ulangi soal yang salah
Kerjakan lagi soal yang dulu salah beberapa hari kemudian tanpa melihat pembahasan. Kalau sekarang benar, bagus. Kalau masih salah, pelajari lagi dan coba beberapa hari kemudian.
4. Bedakan salah karena ceroboh dan salah karena belum paham
Salah karena ceroboh diatasi dengan kebiasaan, misalnya membaca soal dua kali dan mengecek hitungan. Salah karena belum paham diatasi dengan mempelajari ulang konsepnya. Keduanya butuh penanganan berbeda.
5. Ubah cara bicara pada diri sendiri
Ganti "Aku bodoh" menjadi "Aku belum bisa bagian ini." Kata "belum" mengingatkan bahwa kemampuan bisa tumbuh dengan latihan.
Bagaimana dengan nilai?
Nilai ujian tetap penting, tetapi nilai adalah hasil, bukan proses. Siswa yang berani salah di latihan biasanya justru lebih jarang salah di ujian, karena mereka sudah menemukan dan memperbaiki kelemahannya lebih awal.
Kesalahan di Titian Asa
Di Titian Asa, kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses. Di Kampung Bahasa Pare, kata yang dijawab salah akan muncul lagi di latihan berikutnya sampai kamu bisa, dan pembahasan langsung ditampilkan supaya kamu tahu jawaban yang benar. Saat mengobrol dengan teman belajar, semua orang sama-sama sedang belajar, sehingga salah susunan kalimat bukan hal yang memalukan.
Ringkasan
Kesalahan adalah peta yang menunjukkan bagian mana yang perlu dipelajari. Salah lalu segera dikoreksi justru memperkuat ingatan. Catat kesalahanmu, kenali polanya, ulangi soal yang salah, dan beri dirimu izin untuk belum bisa. Salah itu bukan gagal. Salah itu pijakan pertama menuju paham.
