Coba ingat cara kamu biasanya belajar menjelang ujian. Kemungkinan besar kamu membaca ulang catatan, menandai kalimat penting dengan stabilo, atau membaca rangkuman berkali-kali. Cara-cara itu terasa produktif, tetapi penelitian menunjukkan hasilnya kalah jauh dibanding satu teknik sederhana: menguji diri sendiri. Teknik ini disebut active recall atau mengingat aktif.
Apa itu active recall?
Active recall berarti kamu berusaha mengeluarkan informasi dari ingatan tanpa melihat sumbernya. Contohnya:
- menutup buku lalu menuliskan semua yang kamu ingat tentang fotosintesis;
- menjawab soal latihan tanpa melihat catatan;
- menjelaskan materi ke teman seolah-olah kamu gurunya;
- melihat kata bahasa Inggris lalu menebak artinya sebelum membalik kartu.
Bandingkan dengan membaca ulang, yang hanya memasukkan informasi. Setiap kali kamu berhasil memanggil sebuah informasi dari ingatan, jalur menuju informasi itu menjadi lebih kuat. Para peneliti menyebutnya efek pengujian (testing effect).
Kenapa membaca ulang menipu?
Saat membaca ulang, teks terasa makin familiar. Otak lalu menyimpulkan, "Oh, aku sudah paham." Padahal mengenali sesuatu saat melihatnya sangat berbeda dengan mengingatnya saat tidak ada petunjuk, dan ujian meminta yang kedua. Inilah sebabnya banyak siswa merasa sudah siap, lalu kaget saat lembar soal dibagikan.
Active recall terasa lebih berat karena kamu langsung melihat bagian mana yang belum kamu kuasai. Rasa berat itu justru tanda bahwa proses belajar sedang terjadi.
Lima cara mempraktikkan active recall
1. Teknik halaman kosong
Setelah membaca satu subbab, tutup bukunya. Ambil kertas kosong dan tulis semua yang kamu ingat: istilah, contoh, rumus, alur. Setelah itu buka lagi bukunya dan bandingkan. Bagian yang terlewat adalah bagian yang perlu kamu pelajari ulang.
2. Ubah judul menjadi pertanyaan
Judul "Hukum Newton II" bisa diubah menjadi "Apa bunyi hukum Newton II dan apa rumusnya?" Saat mengulang, baca pertanyaannya saja dan jawab dulu sebelum melihat isinya.
3. Kartu tanya jawab
Tulis pertanyaan di satu sisi kartu dan jawabannya di sisi lain. Kartu sangat cocok untuk kosakata, definisi, dan rumus. Gabungkan dengan pengulangan berjarak supaya hasilnya maksimal.
4. Kerjakan soal sebelum merasa siap
Banyak siswa menunda latihan soal sampai merasa sudah paham semua materi. Padahal mengerjakan soal adalah cara belajar itu sendiri. Kerjakan soal lebih awal, salah tidak apa-apa, lalu pelajari pembahasannya.
5. Ajarkan ke orang lain
Jelaskan materi ke teman, adik, atau bahkan ke boneka di mejamu. Kalau kamu tersendat saat menjelaskan, berarti ada bagian yang belum benar-benar kamu pahami.
Tips supaya tidak frustrasi
- Mulai dari porsi kecil. Uji diri setelah tiap subbab, bukan setelah satu bab penuh.
- Selalu cek jawaban. Menguji diri tanpa mengecek jawaban bisa membuat kesalahan tertanam. Setelah mencoba, langsung bandingkan dengan sumber yang benar.
- Catat yang salah. Kesalahan adalah peta yang menunjukkan bagian mana yang perlu diulang.
- Gabungkan dengan jeda. Uji diri hari ini, besok, lalu beberapa hari lagi.
Contoh sesi belajar 30 menit
| Menit | Kegiatan |
|---|---|
| 0–10 | Baca satu subbab dengan teliti |
| 10–15 | Tutup buku, tulis semua yang diingat |
| 15–20 | Buka buku, tandai yang terlewat |
| 20–30 | Kerjakan 5 soal latihan tanpa melihat catatan, lalu cek pembahasan |
Dari 30 menit itu, 20 menit dipakai untuk mengingat aktif dan mengerjakan soal, bukan sekadar membaca.
Active recall di Titian Asa
Latihan di Titian Asa dirancang sebagai active recall. Di Kampung Bahasa Pare, setelah mempelajari materi, kamu langsung diminta memilih arti kata, menyusun kalimat, atau mendengar lalu menjawab. Jawaban yang salah tidak membuatmu dihukum, tetapi kata itu akan muncul lagi sampai kamu bisa.
Ringkasan
Membaca ulang memberi rasa siap, sedangkan menguji diri memberi kesiapan yang sebenarnya. Tutup bukumu, coba ingat, cek jawabanmu, lalu ulangi. Rasanya memang lebih berat, tetapi hasilnya jauh lebih awet.
